Kosong
Tiada senyum langit senja yang menemani
Bibir kering tanpa deru ombak
Terdiam dalam perih kehidupan
Raut wajah pedasnya kehidupan
Menyelimuti setiap insan
Anak jalanan bernyanyi
Menghibur diri atau demi sesuap nasi?
Kosong.Hening.
Tak terucap
Kepapaan atas kehidupan berjalan beriringan
Suara-suara kemunafikan,
Hiruk-pikuk bersamaan tertawa setan
Kesenjangan.Ketidak-adilan dalam kehidupan
Siapa yang salah?
Akankah kita menyalahkan kehidupan
Ha…
Tak ada kata salah untuk kehidupan
Kehidupan memberi kesempatan
Kehidupan memberi jalan
By Ana Baiyi Nastangin
23 January 2009
Tanpa Kata
Dalam sendiri
Ku tak mampu mengungkapkan kata
Begitu banyak kata yang terpendam
Menghiasi sendi – sendi syaraf
Bak lautan alfhabet,
Sulit tertata
Hatiku pilu di dalam lautan kehidupan
Penantian yang aku lakukan seperti tak ada artinya
Menghilang bagaikan di telan suara hutan belantara
Kerinduan yang mendalam
Menghiasi setiap napas
Jeritan kehidupan anak jalanan menghiasi setiap langkah
Penuh arti dari sang Maha Pencipta
Dunia menelan beribu kisah tak terlewatkan
Kehidupan bagai mainan sandiwara sinetron picisan
Penuh kebohongan dan kemunafikan
Semua tergantung bagaimana manusia
Melangkah
Senyum anak jalanan menemani kehidupan yang penuh hambatan
Do’a terucap dalam cakrawala langit-langit senja
Memohon dalam hening malam yang tak beralaskan cahaya
Akankah Dia mendengarkan kita dalam heningnya malam?
By Ana Baiyi Nastangin
23 January 2009
Senyum Mentari
Hujan semakin deras.Gemuruh bersaut-sautan seperti sedang mengamuk.Malam semakin gelap.Ku lihat adik kecilku menggigil kedinginan terduduk lemas di sudut emperan toko tempat kami berteduh.
“Kak…lapar..”,ratap adikku pilu.Aku tersenyum getir.”Sabar dik…kakak sedang membersihkan roti ini.Masih kotor.Sepertinya roti ini sudah lama dibuang”, aku semakin pilu kalau mengingat aku mengambil roti,menu makan malam ini dari tong sampah di pinggir jalan.Tidak pernah terpikir olehku sebelumnya akan menjadi gelandangan.Sebelum Ibu meninggal, aku masih sangat bahagia menjadi anak seorang pemulung.Meski hidup pas-pasan, makan seadanya, tapi aku masih bisa tertawa bahagia karena mempunyai Ibu yang kuat dan sangat menyayangi kami.Aku masih punya teman-teman sekolah yang baik meski kadang mengejekku karena aku anak seorang pemulung tanpa Bapak.
Tuhan..seandainya aku tahu keberadaan Bapakku.Tapi mau apa kalau aku tahu di mana Bapakku.Bagaimana kalau kenyataannya dia sudah meninggal atau dia seorang pria yang tidak bertanggung jawab, aku dan adikku masih tetap jadi gelandangan.Kadang aku berkhayal kalau saja hidupku seperti di dunia sinetron.Aku adalah gelandangan yang tidak punya Bapak, tapi ternyata Bapakku adalah orang kaya yang suatu saat akan mengangkat derajatku dari gelandangan menjadi anak jutawan.Hatiku semakin pilu memikirkannya.
“Dik..ini rotinya.”aku menghampiri adikku yang terdiam.”Dik..ini rotinya..bangun..kita makan malam dulu..”aku menggoyang-goyangkan badan adikku.Badannya dingin dan bibirnya biru.Aku ketakutan.Adik kecilku terdiam kaku.Apa yang terjadi.Aku bingung, aku ketakutan.Suasana sekitar toko sangat sepi, tak ada orang lalu-lalang.Ku peluk adikku erat-erat.
“Tidaaakkk….tolooooongggg…adik… kamu ga’ boleh mati.Jangan tinggalkan kakak…..,”aku bangun , berlari pontang-panting.Aku berteriak sekeras-kerasnya tapi tak ada satupun yang mendengarku.Suara gemuruh masih saut-sautan.Hujan semakin lebat.Aku terduduk lemas di bawah derasnya hujan.
“Tolong…”, suaraku serak tertelan gemuruh halilintar yang menyambar langit.Aku tertunduk.Aku bingung.Kenapa semua bisa terjadi.Hatiku pilu.Apakah adikku sudah meninggal.Pertanyaan-pertanyaan kepiluan menyergap di otakku.Badanku terasa lemas dan dingin menelusuk ke tulang.Pandanganku jadi kabur,samar-samar hingga semua gelap tak terlihat lagi.
Samar-samar ku lihat cahaya.Suara berisik terdengar di mana-mana.Ku buka mata meski terasa berat.Ku lihat bayang-bayang wajah yang tidak aku kenal.Pikiranku kalut.Hatiku tak menentu.Ku ingat adikku yang ku tinggalkan di sudut emperan toko.
Dua hari berlalu sejak saat itu.Warga yang menemukannku pingsan di jalanan tak ada yang tahu di mana keberadaan adikku.Apakah adikku telah meninggal.Lalu siapa yang memakamkannya dan di mana makamnya.
Aku tersungkur dalam kebingungan yang mendalam.Ku bayangkan tubuh kecil adikku yang dingin dan kaku saat aku meninggalkannya untuk mencari pertolongan.Tuhan….
Hari ini aku memutuskan untuk mencari tahu keberadaan adikku.Setiap orang yang melewati toko itu aku hampiri dan kutanyai tentang adikku, tapi hasilnya nol, tak seorangpun yang tahu di mana keberadaannya.
Kakiku terasa berat melangkah.Seharian tak sedikitpun nasi yang masuk ke kerongkonganku.Bersama teriknya sinar matahari aku berusaha terus mencari tahu kebenarannya.Aku kembali ke tempat pertama kali aku terbangun dari pingsanku. Sesampainya di sana aku terkejut. Ya Allah, kemana orang-orang baik itu.Rumah kardusnya sudah rata dengan tanah, tak ada satupun yang masih berdiri termasuk rumah kardus yang kugunakan untuk beristirahat beberapa hari ini.Apa hari ini ada penertiban lagi.Apa yang harus aku lakukan dalam keadaan seperti ini.Aku harus kemana lagi.Seharian perut ini memanggil-manggil.Lapaaarrrr….
Otakku buntu dalam ketidakpastian hidup.Kadang ingin rasanya nyawa ini segera tercabut agar semua penderitaan lenyap.Tetapi,Ibu pernah bilang jangan menyerah pada masalah yang sedang kita hadapi.
“Nak, kita memang orang susah tapi jangan pernah katakan pada gusti Allah kalau kita punya masalah besar tapi katakan pada masalah kita kalau kita punya gusti Allah yang maha besar”.Kata-kata penyemangat yang sering aku dengar setiap aku merasakan getirnya hidup.Tidak tahu darimana Ibu mendapatkan kata-kata bijak itu.Oh..Ibu, seandainya Ibu masih ada..Aku rindu kehangatan dan belaian kasihmu, Ibu.Air mataku tak terbendung lagi.Dadaku terasa sesak seakan ada bom yang siap meledak dari jantungku.
Astaghfirulloh..sudah berapa lama aku tidak sholat.Sudah berapa lama aku tidak mengingatNya.
Sesaat setelah pemakaman Ibu, tepatnya tiga bulan yang lalu.Seorang kaya raya menghampiriku dan adikku yang menangis sesenggukan di depan makam Ibu.Kami bingung harus bagaimana untuk melanjutkan hidup.Usiaku masih 12 tahun sedangkan adik kecilku masih 5 tahun.Tangis kami semakin menjadi saat tidak ada warga sekitar tempat kami tinggal yang peduli pada kami setelah mereka membantu memakamkan Ibu tercinta.Tetapi, aku maklum.Kami tinggal di lingkungan kumuh para pemulung.Tak satupun dari kami yang berada dalam strata ekenomi kelas atas.Bisa mendapatkan lahan di kota metropolitan ini,untuk makam Ibu saja aku sudah sangat bersyukur.
Saat air mata kami semakin membanjiri makam Ibu yang masih merah, seorang wanita kharismatik dengan baju mahal dan kacamata hitamnya menghampiri kami.
“Nak, jangan menangis lagi.Ikutlah dengan tante, nanti kalian bisa tinggal di rumah tante”, tante berbaju mahal itu tersenyum.Kami menatapnya.Dia tersenyum lagi meyakinkan kami.Saat itu hati kami sangat bahagia sepertinya malaikat penolong telah dikirim Allah untuk menghampiri kami.Akupun memutuskan untuk ikut dengannya dan adikku yang masih bingung dengan keadaan hanya mengangguk kegirangan.
Kami melakukan perjalanan yang cukup jauh memasuki jalan kota yang di penuhi lalu-lalang kendaraan bermotor.Meski aku dan keluargaku tinggal di Ibukota Indonesia yakni Jakarta, tapi kami tidak pernah ke pusat kota yang ramai ini.Kami sangat bahagia.Adikku terus-menerus melihat keluar jendela mobil.Mengamati setiap hal yang dia lihat di pinggir jalan.Mobil mewah yang membawa kami sangat nyaman.Ini kali pertama kami menaiki mobil berAC.Aku tidak tahu apa tujuan tante baik itu membawa kami, tapi yang pasti aku hanya ingin terus bertahan hidup.
Perjalanan panjang akhirnya bermuara di sebuah rumah megah di tengah kota Jakarta.Rasa takjub menyelimuti dadaku.Adikku berlarian kecil karena kegirangan.Tante itu tertawa lebar melihat tingkah adikku.
Waktu terus berjalan tanpa henti.Tante itu yang bernama Mira sangat baik.Semua fasilitas yang kami inginkan dikabulkannya.Hidup kami berubah 180 derajat.Strata sosial kami terangkat dari gembel menjadi jutawan.Tak terbayangkan sebelumnya olehku.Akupun bisa melanjutkan sekolah.Sekolah elit yang mayoritas muridnya adalah tionghoa dan nasrani.Awalnya aku merasa tidak ada masalah dengan semua itu, tetapi seiring berjalannya waktu aku merasa semakin jauh dari Allah swt.Di sekolah tidak ada masjid, di rumah tidak pernah diberi kesempatan untuk sholat.Hari-hariku diisi dengan sekolah,les,jalan-jalan,bermain dan pergi ke undangan bersama tante Mira dan suaminya serta adik kecilku yang kini berkulit sangat bersih dan nampak sangat tampan.Setiap kali aku izin untuk sholat, tante Mira selalu melarangnya.Dia selalu bilang kalau kita masih kecil dan tidak perlu sholat.Dosa belum banyak.Akhirnya dengan kebiasaan-kebiasaan kami yang bepergian akupun melalaikan sholat.Aku jadi jarang berdo’a,tapi aku dan adikku jadi sering ikut tante Mira dan keluarganya ke gereja.Hari-hari aku lalui dengan bernyanyi di gereja setiap minggu.Aku dan adikku tidak pindah agama tetapi kami juga tidak beribadah sesuai dengan agama yang kami anut.
Suatu malam, dalam jenuhnya hidup aku merasakan rindu yang mendalam pada Ibu.Air mataku menetes tak terbendung.Dadaku sesak.Ku tatap adik kecilku yang terlelap tidur.Badannya jadi gemuk sejak tinggal bersama tante Mira.Aku tersenyum. Aku teringat nasehat Ibuku,aku ingat senyumnya,aku ingat do’a yang diucapkannya setiap aku mau berangkat sekolah.Ibu..sekarang anakmu sudah melalaikan setiap nasehatmu.Aku tidak tahan lagi.Ada sesuatu yang berkecamuk dalam dada.Saat itu yang paling aku inginkan adalah sholat dan bersua denganNya.Masih dalam kekalutan,ku cari pakaian yang bisa aku gunakan untuk sholat tapi hasilnya nihil.Sejak tinggal di rumah mewah itu aku tidak pernah lagi melihat mukena warisan Ibu.Aku juga tidak punya baju yang berlengan panjang.Setiap baju yang dibelikan tante Mira seperti kekurangan bahan.
Dengan hati yang masih berkecamuk, aku keluar kamar.Di ruang tengah terlihat tante Mira dan suami sedang bermesraan.Menjijikan.Melakukan hal itu di tempat yang di lewati setiap penghuni rumah.Tidak mungkin aku mengatakan pada mereka tentang keinginanku sholat.Akhirnya aku memutuskan ke kamar salah seorang pembantu yang kebetulan muslim.Muslim KTP maksudku.Dia juga tidak pernah sholat,tetapi aku yakin dia punya mukena yang bisa aku pakai untuk sholat.Dengan berjalan mengendap-endap aku menghampiri pembantu yang namanya tidak aku tahu karena teralu banyak pembantu di rumah besar itu.Tanpa basa-basi aku menyampaikan maksudku.Pembantu itu sempat tekejut tapi akhirnya dia tersenyum meng-iyakan.Akan tetapi, nasib berkata lain.Saat pembantu itu mau memberikan mukenanya, tante Mira datang masih dengan pakaian tidak lengkapnya.Tante Mira kaget melihat mukena itu.
“Buat apa barang itu, bi?” tanyanya heran.
“Anu….gadis ini yang memintanya.Mungkin dia mau sholat..”
Tante Mira terbelalak.Matanya membesar.Wajahnya memerah.Merah padam.Dia langsung menghampiriku dan menarik tanganku.Dia menggengam tanganku dengan sangat erat serta menyeretku ke kamar.Aku meronta,mencoba memberontak,tapi percuma.Genggaman tangannya sangat kuat.
“Tante…lepaskan…aku hanya ingin sholat…”
“Diaaamm,tante khan sudah bilang itu tidak perlu.Kamu cukup ke gereja saja kalo mau sembahyang…”
Kejadian malam itu masih membekas hingga saat ini.Cahaya mentari semakin redup.Aku melanjutkan perjalanan untuk mencari tahu tentang adikku di pinggiran kota yang semakin ramai.Dalam sepinya jiwa aku kembali memutar balik memoriku.
Keinginanku untuk sholat di tentang habis-habisan oleh tante Mira. Hingga berhari-hari aku masih bersikukuh untuk sholat.Tante Mira mengurungku di kamar.Adikku yang masih polos itu tidak mengatakan apa-apa.Tante sangat menyayanginya.Sejak kejadian itu tante Mira semakin menyayanginya dan membenciku.Sering menghukum dan memukul setiap aku melakukan kesalahan, padahal dulu kesalahan apapun yang aku lakukan, tante Mira hanya tersenyum dan mengingatkanku untuk tidak melakukannya lagi.Hatiku semakin memberontak.Aku bingung, sikap apa yang harus aku ambil.Sholat tidak bisa, hukuman terus merajalela.Suatu malam akhirnya tercetus dalam pikiranku untuk kabur dari rumah.Rencana aku susun.Akhirnya, satu-satunya waktu yang tepat adalah saat kami pergi ke gereja.
Hari yang aku nanti tiba.Saat semua jemaat khusyuk berdoa aku menghampiri adikku yang asyik bermain di luar gereja.Adikku memang tidak pernah ikut berdo’a, tapi tante Mira selalu maklum karena dia masih kecil.Tanpa basa-basi aku bawa adikku, aku gendong dia meski sangat berat.Aku berjalan meninggalkan gereja tanpa menoleh ke belakang.
Malam menghampiri kota Jakarta yang sesak akan manusia dan kendaraan bermotor.Adikku terus mengeluh kelaparan.Dia selalu ingin pulang.Aku hanya tersenyum.
“Kak..pulang..aku lapar..”,suaranya memelas sekali.
“Dik..rumah itu bukan rumah kita.Ini jalan terbaik yang harus kita tempuh..”aku berusaha menenangkannya.
Jalan demi jalan kami telusuri.Uang yang aku bawa saat itu hanya sepuluh ribu.Itupun uang yang aku ambil dari dapur.Aku tidak tahu itu uang siapa.Sejak keinginan sholat itu muncul, semua fasilitas untukku dicabut termasuk uang saku.
“Malam ini kita tidur di sini ya!”Adikku terduduk lemas.
“Sepuluh ribu.Akan berapa lama uang ini cukup untuk makan”, desahku dalam hati.
Hari berganti hari,uang yang aku punya habis.Kelaparan menjadi hal biasa bagi kami.Tetapi kasihan adikku semakin kurus.Wajahnya pucat.Aku berusaha ngamen di lampu merah.Awalnya uang yang aku dapatkan cukup untuk makan tetapi beberapa kali aku melihat mobil tante Mira.Aku ketakutan.Akupun berhenti ngamen karena takut ketahuan.
Aku dan adikku melanjutkan perjalanan untuk meninggalkan kota agar tidak bertemu lagi dengan tante Mira,hingga pada puncaknya hujan lebat mengguyur kota Jakarta, gemuruh bersaut-sautan.Seharian kami tidak makan.Hanya sepotong roti yang ada di tangan.Adikku semakin lemas hampir pingsan, badan kurusnya menggigil tak berdaya.Kami berteduh di emperan toko tua yang mungkin sudah tidak ada tuannya.
Ini hari ke sepuluh aku mencari adikku.Alhamdulillah.. ada orang baik yang mau menampungku.Aku sudah bisa sholat dengan tenang karena keluarga yang menampungku adalah keluarga muslim yang taat.Aku semakin kuat.Rencana hari ini aku akan mencari adikku ke taman kota.
Perjalanan yang melelahkan dan ditemani terik mentari yang tersenyum ramah pada dunia ,aku menelusuri jalanan kota metropolitan ini.Angin yang bertiup menyejukkan badanku yang tersengat mentari meski aroma bensin sangat menggangguku.Dalam penatnya kota Jakarta aku terduduk lemas di bawah pohon yang menjulang tinggi di taman kota.
Kemana aku harus mencari adikku.Apa mungkin dia masih hidup dan sedang bermain di taman kota ini.Aku tersenyum getir.Dalam kesendirian dan kebingungan aku melihat sosok yang aku kenal.Dia sangat jauh hingga aku samar-samar melihatnya.Tetapi sosok itu semakin jelas.Jelas sekali.Itu adikku.Ya itu adikku.Betapa bahagianya aku.Tetapi bayang wajah yang lain juga ada di sana.Mendekap erat badan kecil adikku seraya tertawa lepas.Tante Mira.Tidak salah.Adikku bersamanya.Aku semakin bingung dan ragu untuk menghampirinya.Ku lihat adikku begitu bahagia.Dia tertawa lepas.Akankah aku merenggut tawa itu untuk kedua kalinya, lalu mengubah tawa itu menjadi tangis pedih karena kelaparan?Aku hanya bisa terdiam.Aku merasa tidak berdaya..
Ya Allah…lindungilah adikku…
Ana “Semangat” Serpong,11 maret 2009